Minggu, 05 April 2015

Cinta Untuk NegeriKu



Film “Tanah Surga… katanya” dirilis pada 15 Agustus 2012 ini merupakan film drama Indonesia yang disutradarai oleh Herwin Novianto dengan produsernya Deddy Mizwar dan Brajamusti. Film yang mempunyai durasi selama 90 menit ini dibintangi oleh Osa Aji Santoso, Fuad Idris, Ence Bagus, Astri Nurdin, Tissa Biani Azzahra, Ringgo Agus Rahman, dan Andre Dimas Apri, dengan Kolam Susu-Koes Plus sebagai soundtrack resmi film ini. Film yang mengambil latar disebuah desa di Kalimantan Barat, yaitu antara perbatasan Malaysia Serawak-Kalimantan Barat ini, berhasil menyabet berbagai penghargaan di Festival Film Indonesi (FFI) 2012. Diantaranya penghargaan Sutradara Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, Tata Artis Terbaik, Tata usik Terbaik, serta Cerita Asli Terbaik.

Cerita ini berlatar pada sebuah desa di perbatasan Indonesia-Malaysia. Sebuah desa dengan segala kekurangan membuat para penduduknya berbondong-bondong pindah ke Malaysia, begitupula dengan Haris anak seorang mantan pejuang Indonesia, Hasyim. Pendidikan didesa tersebut sangatlah minim, hanya ada seorang guru, Astuti yang mengajar murid kelas tiga dan kelas empat. Sekolah itupun sudah hampir setahun lamanya tak beraktifitas.

Cerita bermulai dari kedatangan Haris yang hendak menjemput seluruh keluarganya untuk tinggal di Malaysia. Berharap kehidupannya dengan keluarganya akan lebih makmur Diana. Kedua anaknya, Salman dan Salina akan mendapat pendidikan yang layak di Malaysia, sang ayah pun akan mendapat pengobatan yang lebih baik lagi disana. Tetapi, keinginan Haris ini ditentang keras oleh ayahnya, Hasyim. Rasa nasionalisme kakek Hasyim yang tinggi membuatnya enggan untuk mengikuti keinginan Haris pindah ke Malaysia. Ditambah dengan berita kalau Hars telah menikah dengan wanita Malaysia. Tambah sudah ke-engganan Hasyim untuk pindah ke Malaysia.

Hari kepindahan tiba, Salman menyadari bahwa kakeknya tidak ikut pindah ke Malaysia. Ia pun memutuskan untuk menetap bersama kakeknya di Indonesia, menemani sang kakek yang tinggal sendiri. Tak lama berselang, datanglah Dr. Anwar, seorang dokter muda ke daerah tersebut. Kedatangan dokter muda ini sedikit banyak membantu kesehatan warga didesa tersebut.

Kakek Hasyim sakit, Dr. Anwar sebisa mungkin membantu pengobatan kakek Hasyim. Tetapi, tetap saja penyakit kakek Hasyim semakin parah dan harus dibawa kerumah sakit. Mengetahui kekurangan biaya membuat pengobatan kakek Hasyim terhambat. Menyadari akan hal ini Salman mulai memikirkan cara untu mendapatkan uang agar ia dapat membawa kakeknya kerumah sakit dikota. Ia mulai bekerja, menjual dagangan ke Malaysia. Perjalanan jauh harus ia tempuh tiap harinya, uang hasil dagangannya ia kumpulkan dalam kaleng bekas yang ia simpan dikamar.

Ditengah-tengah itu, desa tersebut mendapatkan kabar yang menyenangkan, seorang pejabat bersama asistennya akan dating untuk membantu pendidikan di desa tersebut. Ibu Astuti, selaku guru satu-satu mempersiapkan anak-anak muridnya untuk menampilkan yang terbaik untuk desa mereka. Tibalah hari kedatangan pejabat yang dinanti-nanti. Kumpulan siswi perempuan menampilkan tarian, hingga tiba saat Salman tampil membacakan puisi buatan dirinya yang berjudul “Tanah Surga.” Puisi yang indah namun disayangkan, isi puisi Salman ini menyindir Pejabat disana, bantuan pun gagal didapatkan sekolah didesa tersebut.

Kembali kekondisi kakek Hasyim yang semakin parah, hingga suatu malam penyakitnya kumat. Ia harus segera dibawa kerumah sakit dikota. Merasa tabungannya sudah cukup Salman menyerahkan semuanya kepada Ibu Astuti agar kakeknya dapat segera dibawa kerumah sakit. Berangkatlah esoknya Dr. Anwar, Ibu Astuti, Kakek Hasyim dan Salman menggunakan perahu kekota. Ditengah perjalanan, perahu yang mereka tumpangi kehabisan bahan bakar, kondisi kakek Hasyim semakin memburuk. Ditengah perjalanan itupula, Kakek Hasyim harus menghembuskan nafasnya. Sebelum itu, kakek Hasyim berpesan kepada Salman, agar ia tidak pernah kehilangan cinta kepada negeri sendiri yaitu Indonesia.

Film bawaan Demi Gisela Citra Sinema ini menampilkan jiwa nasionalisme yang tinggi yang digambarkan dengan tokoh kakek Hasyim. Sudah jarang sekali sekarang film yang mengangkat tema nasionalisme dengan berbagai realita yang disampaikan secara sempurna. Keadaan Indonesia yang begitu memprihatinkan yang dijadikan latar dalam pembuatan film ini dapat menjadi sindiran keras kepada pemerintah pusat tentang masih banyaknya daerah Indonesia yang belum mendapat pemerataan pembangunan. Namun, dibalik itu film ini juga mempunyai kekurangan dimana, untuk bagian sekolah tidak ditunjukan murid-murid kelas lainnya seperti kelas satu, dua, lima dan enam. Pengeksploran keindahan alam didesa tersebut juga kurang ditampilkan. Film “Tanah Surga… Katanya” ini focus terhadap permasalahan yang ada dalam desa tersebut, tidak dengan keindahan alamnya.

Pengambilan gambar pada settingan malam hari yang minim dengan cahaya, membuat film terlihat begitu gelap. Sulit untuk diperhatikan ekspresi pemain dalam dialog-dialog yang ada. Walaupun begitu, pembawaan pemain dalam mendalami setiap karakter masing-masing sangat mengesankan. Dapat dilihat dari penggambaran kakek Hasyim yang begitu menggebu-gebu setiap menceritakan cerita perjuangan Bangsa Indonesia pada jaman penjahahan dulu. Tetapi, jalan cerita dalam film ini tidak terlalu menampilkan dimana letak titik klimaks dan puncak ceritanya berada. Jalan cerita yang disampaikan pun tidak dijelaskan lebih mendalam dan lebih jauh lagi. Tidak dijelaskan dimana akan kelanjutan dari sekolah yang tidak jadi mendapat bantuan. Lalu, apa yang akan dilakukan Haris setelah mendapat kabar bahwa sang ayah meninggal. Yang didapat hanya ending yang mengambil bagian scene yang sudah ditampilkan sebelumnya. Yaitu adegan Salman berlari-lari membawa bendera. Hanya saja, mungkin film ini dapat diperpanjang lagi. Tapi untuk keseluruhan, tema untuk film ini patut diacungi jempol.


Demikian pemaparan saya mengenai film “Tanah Surga… Katanya.” Film ini merupakan film yang dapat ditonton bersama keluarga. Tidak salah jika film ini menyabet banyak penghargaan. Kelebihan dan kekurangan yang ada dapat saling menyempurnakaan. Pesan moral yang disampaikan sangat menyentuh, bahwa bagaimanapun kondisi kita jangan pernah kehilangan cinta pada negeri sendiri. Ya, tentunya sangat pas pesan tersebut melihat banyak remaja-rejama yang kehilangan cinta akan negeri tercinta Indonesia.

Selasa, 03 Maret 2015

Tak Lekang Oleh Waktu



Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck diangkat dari novel klasik mahakarya Buya Hamka tahun 1938. Film yang dirilis pada akhir tahun 2013 ini di sutradarai oleh Sunil Soraya dengan produser Ram Soraya. Biaya produksi yang tinggi, film ini menjadi film termahal yang pernah diproduksi oleh Soraya Intercine Films. Proses pembuatan film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” memakan waktu hinggal 5 tahun lamanya dengan penulisan scenario dilakukan selama dua tahun. Sang sutradara mempercayai penulisan scenario kepada Imam Tantowi dan Donny Dhirgantoro dengan dibantu oleh Riheam Junianti.

Film yang berlatar tahun 1930-an ini dibintangi oleh Herjunot Ali, Pevita Pearce, dan Reza Rahardian memikat berjuta-juta masyarakat Indonesia menjadikan film ini film terlaris hingga ditayangkan kembali berupa versi lebih panjangnya (Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck versi Extended). Cerita tentang perbedaan status yang menghalangi kisah cinta dua insan manusia begitu kental dengan campur tangan adat yang mengikat pada zaman itu menjadi inti plot cerita yang tersaji dengan durasi 2 jam 49 menit.

Film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” bermula dari kematian kedua orang tua Zainuddin (Herjunot Ali), ia kemudian memutuskan untuk pergi ke Batipuh, kampong halaman ayahnya. Disana, ia berharap dapat bergaul dengan masyarakat setempat dan menimba ilmu. Tetapi, yang ia dapat adalah sebaliknya. Dalam ketidak nyamanan sikap orang-orang Batipuh kepadanya, Zainuddin bertemu dengan Hayati (Pevita Pearce). Mereka berkirim surat dan menjadi sahabat. Dalam surat menyurat ini, muncullah benih-benih cinta diantara keduanya. Akan tetapi, kisah cinta mereka terhalangi oleh adat yang mengikat. Zainuddin bukan keturunan asli Minang, tidak berharta dan berbangsa. Sedangkan, Hayati keturunan Bangsawan. Zainuddin terusir dari Batipuh dan pergi ke Padang Panjang.

Sebelum perpisahan ini, Hayati berjanji untuk setia menunggu Zainuddin kembali dan melamarnya. Namun takdir berkata lain, Hayati harus menuruti perintah tetua adatnya agar menikahi Aziz (Reza Rahardian) seorang keturunan Bangsawan dan Minang asli. Mendengar akan hal ini, Zainuddin merasa terpukul. Jatuh sakit Zainuddin selama dua bulan lamanya. Bang Muluk (Rendy Danistha), memberinya semangat ditengah keterpurukannya meratapi Hayati, kekasihnya yang sudah dipinang orang lain. Zainuddin pun bangkit dan memutuskan untuk pergi ke tanah Jawa, Batavia, untuk mengadu nasib. Berangkatlah Zainuddin kesana dengan di temani sahabatnya, Muluk.

Pengaduan nasibnya membawa Zainuddin menuju kesuksesan. Di Batavia, ia menulis sebuah buku berjudul “Teroesir” yang sukses menjadi buku terkenal pada zamannya. Tidak hanya itu, kesuksesan Zainuddin masih berlanjut, ia ditawari sebuah kepercayaan memimpin sebuah penerbitan di Surabaya. Kesuksesan Zainuddin membawanya bertemu kembali dengan Hayati. Lewat sebuah opera yang diadakan, Zainuddin kembali bertatap muka dengan Hayati dan Aziz.

Bahtera rumah tangga Hayati dan Aziz yang semakin terpuruk, membuat mereka terpaksa menumpang dirumah Zainuddin. Sebagai seorang sahabat, Zainuddin dengan tangan terbuka menyambut keduanya. Tak enak hati Aziz melihat kebaikan Zainuddin, ia menitipkan Hayati sementara dirinya pergi mencari pekerjaan. Tetapi, hal tak disangka terjadi. Aziz meninggal, mengembalikan Hayati kepada Zainuddin. Dengan berat hati, Zainuddin tidak bisa menerima Hayati kembali dan memulangkannya ketanah Batipuh.

Disinilah dimana klimaks cerita terjadi. Dalam perjalanan kembali ke Batipuh, Kapal Van Der Wijck yang dinaiki Hayati tenggelam. Menenggelamkan seluruh isi kapal. Sementara, Zainuddin yang membaca berita tentang tenggelamnya Kapal Van Der Wijck segera mencari Hayati. Tetapi, ia kehilangan cintanya lagi. Kini untuk selamanya.

Soraya Intercine Films membawakan film ini begitu nyata dan real. Penonton seakan-akan dibawa kembali ke zaman 1930-an dengan settingan tempat yang sesuai membuat film ini sangat sastrawi bahasanya. Visual efek pada beberapa bagian pun cukup memanjakan mata walau pada beberapa bagian terdapat efek yang masih kasar. Durasi film yang terlalu lama, ditutupi dengan plot cerita yang begitu padat. Penonton hingga dibuatnya focus terhadap jalan cerita ini, membuat kita penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Tetapi, tetap saja pada beberapa bagian masih terlhat alur yang terlalu cepat dan tidak jelas. Tidak dijelaskan keterangan waktu untuk beberapa scene dalam film ini membuat penonton menerka-nerka.

Patut diperhatikan pula, soundtrack yang tersaji dalam film ini membuat kita lebih menghayati kisah cinta Zainuddin dan Hayati yang penuh akan perjuangan. Penghayatan yang dilakukan setiap pemain menambah satu lagi nilai tambah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Logat-logat Minang yang kental dibawakan sangat sempurna oleh para pemain, walaupun dibagian ending, logat ini sedikit mulai berkurang. Cerita tidak terlalu berfokus kepada drama-drama yang menyedihkannya, para penonton di sajikan beberapa scenario yang cukup menghibur ditengah-tengah cerita. Membuatnya menjadi tidak membosankan.

Akan tetapi, sedikit dibuat kecewa dengan kapal van der wijck yang tidak terlalu banyak diekspose. Hanya dibagian dimana Muluk dan Zainuddin di Batavia dan saat Hayati menaiki kapal tersebut kemudian tenggelamnya. Yang banyak dinanti adalah kehadiran kapal van der wijck ini yang menjadi judul cerita tetapi di ekspose hanya untuk beberapa menit. Cukup membuang banyak dana karena untuk membuat bagian kapal ini, hingga dipesan ke Belanda. Alasan mengapa kapal itu tenggelam pun tidak jelas. Hanya diceritakan bagian dimana penumpang kapal terlihat panic dan kapal pun tenggelam.


Demikianlah jabaran mengenai film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”. Dengan kekurangan dan kelebihan yang saling menyeimbangi film ini sangat layak untuk ditonton. Tidak heran jika film ini menarik berjuta minat masyarakat Indonesia. Begitu banyak pesan moral yang disampaikan dalam film ini dengan pengetahuan akan adat kebudayaan Indonesia yang begitu kental pada zamannya.