Tenggelamnya
Kapal Van Der Wijck diangkat dari novel klasik mahakarya Buya Hamka tahun 1938.
Film yang dirilis pada akhir tahun 2013 ini di sutradarai oleh Sunil Soraya
dengan produser Ram Soraya. Biaya produksi yang tinggi, film ini menjadi film
termahal yang pernah diproduksi oleh Soraya Intercine Films. Proses pembuatan
film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” memakan waktu hinggal 5 tahun lamanya
dengan penulisan scenario dilakukan selama dua tahun. Sang sutradara
mempercayai penulisan scenario kepada Imam Tantowi dan Donny Dhirgantoro dengan
dibantu oleh Riheam Junianti.
Film yang
berlatar tahun 1930-an ini dibintangi oleh Herjunot Ali, Pevita Pearce, dan
Reza Rahardian memikat berjuta-juta masyarakat Indonesia menjadikan film ini
film terlaris hingga ditayangkan kembali berupa versi lebih panjangnya
(Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck versi Extended). Cerita tentang perbedaan
status yang menghalangi kisah cinta dua insan manusia begitu kental dengan
campur tangan adat yang mengikat pada zaman itu menjadi inti plot cerita yang
tersaji dengan durasi 2 jam 49 menit.
Film “Tenggelamnya
Kapal Van Der Wijck” bermula dari kematian kedua orang tua Zainuddin (Herjunot
Ali), ia kemudian memutuskan untuk pergi ke Batipuh, kampong halaman ayahnya.
Disana, ia berharap dapat bergaul dengan masyarakat setempat dan menimba ilmu.
Tetapi, yang ia dapat adalah sebaliknya. Dalam ketidak nyamanan sikap
orang-orang Batipuh kepadanya, Zainuddin bertemu dengan Hayati (Pevita Pearce).
Mereka berkirim surat dan menjadi sahabat. Dalam surat menyurat ini, muncullah
benih-benih cinta diantara keduanya. Akan tetapi, kisah cinta mereka terhalangi
oleh adat yang mengikat. Zainuddin bukan keturunan asli Minang, tidak berharta
dan berbangsa. Sedangkan, Hayati keturunan Bangsawan. Zainuddin terusir dari
Batipuh dan pergi ke Padang Panjang.
Sebelum
perpisahan ini, Hayati berjanji untuk setia menunggu Zainuddin kembali dan
melamarnya. Namun takdir berkata lain, Hayati harus menuruti perintah tetua
adatnya agar menikahi Aziz (Reza Rahardian) seorang keturunan Bangsawan dan
Minang asli. Mendengar akan hal ini, Zainuddin merasa terpukul. Jatuh sakit
Zainuddin selama dua bulan lamanya. Bang Muluk (Rendy Danistha), memberinya
semangat ditengah keterpurukannya meratapi Hayati, kekasihnya yang sudah
dipinang orang lain. Zainuddin pun bangkit dan memutuskan untuk pergi ke tanah
Jawa, Batavia, untuk mengadu nasib. Berangkatlah Zainuddin kesana dengan di
temani sahabatnya, Muluk.
Pengaduan
nasibnya membawa Zainuddin menuju kesuksesan. Di Batavia, ia menulis sebuah
buku berjudul “Teroesir” yang sukses menjadi buku terkenal pada zamannya. Tidak
hanya itu, kesuksesan Zainuddin masih berlanjut, ia ditawari sebuah kepercayaan
memimpin sebuah penerbitan di Surabaya. Kesuksesan Zainuddin membawanya bertemu
kembali dengan Hayati. Lewat sebuah opera yang diadakan, Zainuddin kembali
bertatap muka dengan Hayati dan Aziz.
Bahtera rumah
tangga Hayati dan Aziz yang semakin terpuruk, membuat mereka terpaksa menumpang
dirumah Zainuddin. Sebagai seorang sahabat, Zainuddin dengan tangan terbuka
menyambut keduanya. Tak enak hati Aziz melihat kebaikan Zainuddin, ia
menitipkan Hayati sementara dirinya pergi mencari pekerjaan. Tetapi, hal tak
disangka terjadi. Aziz meninggal, mengembalikan Hayati kepada Zainuddin. Dengan
berat hati, Zainuddin tidak bisa menerima Hayati kembali dan memulangkannya
ketanah Batipuh.
Disinilah dimana
klimaks cerita terjadi. Dalam perjalanan kembali ke Batipuh, Kapal Van Der
Wijck yang dinaiki Hayati tenggelam. Menenggelamkan seluruh isi kapal.
Sementara, Zainuddin yang membaca berita tentang tenggelamnya Kapal Van Der
Wijck segera mencari Hayati. Tetapi, ia kehilangan cintanya lagi. Kini untuk
selamanya.
Soraya Intercine
Films membawakan film ini begitu nyata dan real. Penonton seakan-akan dibawa
kembali ke zaman 1930-an dengan settingan tempat yang sesuai membuat film ini
sangat sastrawi bahasanya. Visual efek pada beberapa bagian pun cukup
memanjakan mata walau pada beberapa bagian terdapat efek yang masih kasar.
Durasi film yang terlalu lama, ditutupi dengan plot cerita yang begitu padat. Penonton
hingga dibuatnya focus terhadap jalan cerita ini, membuat kita penasaran apa
yang akan terjadi selanjutnya. Tetapi, tetap saja pada beberapa bagian masih terlhat
alur yang terlalu cepat dan tidak jelas. Tidak dijelaskan keterangan waktu
untuk beberapa scene dalam film ini membuat penonton menerka-nerka.
Patut
diperhatikan pula, soundtrack yang tersaji dalam film ini membuat kita lebih menghayati
kisah cinta Zainuddin dan Hayati yang penuh akan perjuangan. Penghayatan yang
dilakukan setiap pemain menambah satu lagi nilai tambah Tenggelamnya Kapal Van
Der Wijck. Logat-logat Minang yang kental dibawakan sangat sempurna oleh para
pemain, walaupun dibagian ending, logat ini sedikit mulai berkurang. Cerita tidak
terlalu berfokus kepada drama-drama yang menyedihkannya, para penonton di
sajikan beberapa scenario yang cukup menghibur ditengah-tengah cerita. Membuatnya
menjadi tidak membosankan.
Akan tetapi,
sedikit dibuat kecewa dengan kapal van der wijck yang tidak terlalu banyak
diekspose. Hanya dibagian dimana Muluk dan Zainuddin di Batavia dan saat Hayati
menaiki kapal tersebut kemudian tenggelamnya. Yang banyak dinanti adalah
kehadiran kapal van der wijck ini yang menjadi judul cerita tetapi di ekspose
hanya untuk beberapa menit. Cukup membuang banyak dana karena untuk membuat
bagian kapal ini, hingga dipesan ke Belanda. Alasan mengapa kapal itu tenggelam
pun tidak jelas. Hanya diceritakan bagian dimana penumpang kapal terlihat panic
dan kapal pun tenggelam.
Demikianlah jabaran
mengenai film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”. Dengan kekurangan dan
kelebihan yang saling menyeimbangi film ini sangat layak untuk ditonton. Tidak heran
jika film ini menarik berjuta minat masyarakat Indonesia. Begitu banyak pesan
moral yang disampaikan dalam film ini dengan pengetahuan akan adat kebudayaan
Indonesia yang begitu kental pada zamannya.

Bagus dens tulisannyaaa. Lanjut dong review film yang lain hehe
BalasHapusBagus denn
BalasHapusBagus den bahasanya juga gampang dipahami
BalasHapuskeren, trus gak bertele tele juga
BalasHapusKeren dan langsung ke poinnya
BalasHapusBaguss
BalasHapuskeren den, judulnya apalagi hwehe. tapi ada typo-typo lucunya gitu
BalasHapusbagus den, tapi ada beberapa typo
BalasHapusRingkas tapi menyeluruh nihh keren reviewnyaa
BalasHapusSetuju sama evaluasinya hehe
BalasHapusBetul kata temanmu. Ada sedikit salah ketik. Lebih cermat lagi tuk tgs berikutnya
BalasHapus