Selasa, 03 Maret 2015

Tak Lekang Oleh Waktu



Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck diangkat dari novel klasik mahakarya Buya Hamka tahun 1938. Film yang dirilis pada akhir tahun 2013 ini di sutradarai oleh Sunil Soraya dengan produser Ram Soraya. Biaya produksi yang tinggi, film ini menjadi film termahal yang pernah diproduksi oleh Soraya Intercine Films. Proses pembuatan film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” memakan waktu hinggal 5 tahun lamanya dengan penulisan scenario dilakukan selama dua tahun. Sang sutradara mempercayai penulisan scenario kepada Imam Tantowi dan Donny Dhirgantoro dengan dibantu oleh Riheam Junianti.

Film yang berlatar tahun 1930-an ini dibintangi oleh Herjunot Ali, Pevita Pearce, dan Reza Rahardian memikat berjuta-juta masyarakat Indonesia menjadikan film ini film terlaris hingga ditayangkan kembali berupa versi lebih panjangnya (Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck versi Extended). Cerita tentang perbedaan status yang menghalangi kisah cinta dua insan manusia begitu kental dengan campur tangan adat yang mengikat pada zaman itu menjadi inti plot cerita yang tersaji dengan durasi 2 jam 49 menit.

Film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” bermula dari kematian kedua orang tua Zainuddin (Herjunot Ali), ia kemudian memutuskan untuk pergi ke Batipuh, kampong halaman ayahnya. Disana, ia berharap dapat bergaul dengan masyarakat setempat dan menimba ilmu. Tetapi, yang ia dapat adalah sebaliknya. Dalam ketidak nyamanan sikap orang-orang Batipuh kepadanya, Zainuddin bertemu dengan Hayati (Pevita Pearce). Mereka berkirim surat dan menjadi sahabat. Dalam surat menyurat ini, muncullah benih-benih cinta diantara keduanya. Akan tetapi, kisah cinta mereka terhalangi oleh adat yang mengikat. Zainuddin bukan keturunan asli Minang, tidak berharta dan berbangsa. Sedangkan, Hayati keturunan Bangsawan. Zainuddin terusir dari Batipuh dan pergi ke Padang Panjang.

Sebelum perpisahan ini, Hayati berjanji untuk setia menunggu Zainuddin kembali dan melamarnya. Namun takdir berkata lain, Hayati harus menuruti perintah tetua adatnya agar menikahi Aziz (Reza Rahardian) seorang keturunan Bangsawan dan Minang asli. Mendengar akan hal ini, Zainuddin merasa terpukul. Jatuh sakit Zainuddin selama dua bulan lamanya. Bang Muluk (Rendy Danistha), memberinya semangat ditengah keterpurukannya meratapi Hayati, kekasihnya yang sudah dipinang orang lain. Zainuddin pun bangkit dan memutuskan untuk pergi ke tanah Jawa, Batavia, untuk mengadu nasib. Berangkatlah Zainuddin kesana dengan di temani sahabatnya, Muluk.

Pengaduan nasibnya membawa Zainuddin menuju kesuksesan. Di Batavia, ia menulis sebuah buku berjudul “Teroesir” yang sukses menjadi buku terkenal pada zamannya. Tidak hanya itu, kesuksesan Zainuddin masih berlanjut, ia ditawari sebuah kepercayaan memimpin sebuah penerbitan di Surabaya. Kesuksesan Zainuddin membawanya bertemu kembali dengan Hayati. Lewat sebuah opera yang diadakan, Zainuddin kembali bertatap muka dengan Hayati dan Aziz.

Bahtera rumah tangga Hayati dan Aziz yang semakin terpuruk, membuat mereka terpaksa menumpang dirumah Zainuddin. Sebagai seorang sahabat, Zainuddin dengan tangan terbuka menyambut keduanya. Tak enak hati Aziz melihat kebaikan Zainuddin, ia menitipkan Hayati sementara dirinya pergi mencari pekerjaan. Tetapi, hal tak disangka terjadi. Aziz meninggal, mengembalikan Hayati kepada Zainuddin. Dengan berat hati, Zainuddin tidak bisa menerima Hayati kembali dan memulangkannya ketanah Batipuh.

Disinilah dimana klimaks cerita terjadi. Dalam perjalanan kembali ke Batipuh, Kapal Van Der Wijck yang dinaiki Hayati tenggelam. Menenggelamkan seluruh isi kapal. Sementara, Zainuddin yang membaca berita tentang tenggelamnya Kapal Van Der Wijck segera mencari Hayati. Tetapi, ia kehilangan cintanya lagi. Kini untuk selamanya.

Soraya Intercine Films membawakan film ini begitu nyata dan real. Penonton seakan-akan dibawa kembali ke zaman 1930-an dengan settingan tempat yang sesuai membuat film ini sangat sastrawi bahasanya. Visual efek pada beberapa bagian pun cukup memanjakan mata walau pada beberapa bagian terdapat efek yang masih kasar. Durasi film yang terlalu lama, ditutupi dengan plot cerita yang begitu padat. Penonton hingga dibuatnya focus terhadap jalan cerita ini, membuat kita penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Tetapi, tetap saja pada beberapa bagian masih terlhat alur yang terlalu cepat dan tidak jelas. Tidak dijelaskan keterangan waktu untuk beberapa scene dalam film ini membuat penonton menerka-nerka.

Patut diperhatikan pula, soundtrack yang tersaji dalam film ini membuat kita lebih menghayati kisah cinta Zainuddin dan Hayati yang penuh akan perjuangan. Penghayatan yang dilakukan setiap pemain menambah satu lagi nilai tambah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Logat-logat Minang yang kental dibawakan sangat sempurna oleh para pemain, walaupun dibagian ending, logat ini sedikit mulai berkurang. Cerita tidak terlalu berfokus kepada drama-drama yang menyedihkannya, para penonton di sajikan beberapa scenario yang cukup menghibur ditengah-tengah cerita. Membuatnya menjadi tidak membosankan.

Akan tetapi, sedikit dibuat kecewa dengan kapal van der wijck yang tidak terlalu banyak diekspose. Hanya dibagian dimana Muluk dan Zainuddin di Batavia dan saat Hayati menaiki kapal tersebut kemudian tenggelamnya. Yang banyak dinanti adalah kehadiran kapal van der wijck ini yang menjadi judul cerita tetapi di ekspose hanya untuk beberapa menit. Cukup membuang banyak dana karena untuk membuat bagian kapal ini, hingga dipesan ke Belanda. Alasan mengapa kapal itu tenggelam pun tidak jelas. Hanya diceritakan bagian dimana penumpang kapal terlihat panic dan kapal pun tenggelam.


Demikianlah jabaran mengenai film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”. Dengan kekurangan dan kelebihan yang saling menyeimbangi film ini sangat layak untuk ditonton. Tidak heran jika film ini menarik berjuta minat masyarakat Indonesia. Begitu banyak pesan moral yang disampaikan dalam film ini dengan pengetahuan akan adat kebudayaan Indonesia yang begitu kental pada zamannya.

11 komentar:

  1. Bagus dens tulisannyaaa. Lanjut dong review film yang lain hehe

    BalasHapus
  2. Bagus den bahasanya juga gampang dipahami

    BalasHapus
  3. keren, trus gak bertele tele juga

    BalasHapus
  4. Keren dan langsung ke poinnya

    BalasHapus
  5. keren den, judulnya apalagi hwehe. tapi ada typo-typo lucunya gitu

    BalasHapus
  6. bagus den, tapi ada beberapa typo

    BalasHapus
  7. Ringkas tapi menyeluruh nihh keren reviewnyaa

    BalasHapus
  8. Setuju sama evaluasinya hehe

    BalasHapus
  9. Betul kata temanmu. Ada sedikit salah ketik. Lebih cermat lagi tuk tgs berikutnya

    BalasHapus